BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pada awal
abad 21, setiap organisasi diharuskan untuk melakukan dinamika perubahan. Oleh
karena itu setiap organisasi dituntut mampu berkompetisi, sehingga dapat tetap
bertahan dalam persaingan global. Strategi untuk selalu dapat berkompetisi
adalah dengan cara memperkuat kapasitas organisasi dan sumber daya manusia yang
dimiliki. Sumber daya manusia merupakan salah satu faktor yang sangat strategis
dan fundamental dalam organisasi. Peranan sumber daya manusia akan sangat
menentukan keberhasilan atau kegagalan organisasi dalam mencapai visi dan misi
yang telah ditetapkan (Sudarmanto, 2009).
Sudarmanto
(2009) menambahkan bahwa untuk mengetahui sejauh mana keberadaan peran dan
kontribusi sumber daya manusia dalam mencapai keberhasilan organisasi, tentu
diperlukan pengukuran kinerja. Menurut Mondy & Noe (2005) penilaian kinerja
adalah tinjauan formal dan evaluasi kinerja individu atau tugas tim. Sedangkan
menurut Dessler (2003) penilaian kinerja adalah mengevaluasi kinerja relatif
karyawan saat ini dan/atau di masa lalu terhadap standar prestasinya. Kinerja
sumber daya manusia sangat mempengaruhi keberhasilan suatu organisasi atau
perusahaan. Kinerja merupakan prestasi kerja, yakni perbandingan antara hasil
kerja yang secara nyata dengan standar kerja yang ditetapkan. Setiap perusahaan
akan berusaha untuk selalu meningkatkan kinerja
1
karyawannya
demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan perusahaan. Kinerja karyawan
merupakan suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut
kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu. Menurut Robbins
(2008) bahwa kinerja karyawan adalah sebagai fungsi dari interaksi antara
kemampuan dan motivasi.
Simamora
(2003) mengatakan bahwa maksud penetapan tujuan kinerja adalah menyusun sasaran
yang berguna tidak hanya bagi evaluasi kinerja pada akhir periode tetapi juga
untuk mengelola proses kerja selama periode tersebut Menurut Sudarmanto (2009),
perusahaan yang berhasil dan efektif merupakan perusahaan dengan individu yang
didalamnya memiliki kinerja yang baik. Perusahaan yang efektif atau berhasil
apabila ditopang oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Sebaliknya,
perusahaan yang gagal dikarenakan faktor kinerja dari sumber daya manusia yang
tidak berkualitas. Jadi kinerja sumber daya manusia sangat berpengaruh besar
terhadap keberhasilan suatu perusahaan tanpa terkecuali.
Faktor pertama yang dapat mempengaruhi kinerja diantaranya
adalah gaya kepemimpinan. Kepemimpinan merupakan kemampuan untuk mempengaruhi
suatu kelompok demi pencapaian tujuan (Robbins, 2008). Gaya kepemimpinan merupakan norma perilaku
yang digunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi
perilaku orang lain seperti yang diinginkan. Dalam organisasi, suatu gaya
kepemimpinan yang tepat sangat diperlukan untuk mengembangkan lingkungan kerja
yang kondusif dan meningkatkan kinerja bagi karyawan sehingga diharapkan akan
menghasilkan produktivitas yang tinggi.
Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk mempengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan dengan
antusias (David, Keith, 1985). Seorang pemimpin harus mampu mempengaruhi para
bawahannya untuk bertindak sesuai dengan visi, misi dan tujuan perusahaan.
Pemimpin harus mampu memberikan wawasan, membangkitkan kebanggaan, serta
menumbuhkan sikap hormat dan kepercayaan dari bawahannya. Inti kesuksesan suatu
organisasi pada dasarnya terletak pada pemimpinnya. Fungsi kepemimpinan dalam
organisasi merupakan elemen yang sangat penting dalam pengelolaan sumber daya
manusia. Selain memberikan pengarahan, juga memberikan motivasi dalam upaya
peningkatan kinerja karyawan. Untuk mengembangkan kemajuan dan perkembangan
kinerja karyawan, sangat tergantung kepada sumber daya manusia sebagai
pengelola langsung. Oleh sebab itu kepemimpinan mempunyai peran besar dalam
meningkatkan kinerja karyawan. Sikap dan gaya serta perilaku kepemimpinan
seorang pemimpin sangat besar pengaruhnya terhadap organisasi yang dipimpin
bahkan sangat berpengaruh terhadap kinerja karyawan dalam organisasi tersebut.
Gaya kepemimpinan merupakan faktor eksternal yang dapat
mempengaruhi
kinerja karyawan. Pemimpin yang efektif dalam
menerapkan gaya tertentu dalam kepemimpinannya terlebih dahulu harus memahami
siapa bawahan yang dipimpinnya, mengerti kekuatan dan kelemahan bawahannya, dan
mengerti bagaimana cara memanfaatkan kekuatan bawahan untuk mengimbangi
kelemahan yang mereka miliki (Rani Mariam, 2009). Sebaliknya gaya kepemimpinan yang
tidak disesuaikan dengan karakteristik karyawan dan tugas yang ada, dapat
mendorong
karyawan merasa kurang bersemangat dalam bekerja atau bahkan kehilangan
semangat kerja, sehingga menyebabkan karyawan tidak bersungguhsungguh dalam
bekerja dan perhatian yang tidak terpusat pada pekerjaan. Keadaan seperti ini
berpengaruh terhadap hasil pekerjaan yang tidak optimal, juga terabaikannya
kualitas dan kuantitas produksi. Tentu saja hal ini perlu mendapat perhatian
khusus, karena dapat mengganggu kelancaran kegiatan perusahaan.
Gaya
kepemimpinan juga merupakan norma perilaku yang digunakan oleh seseorang pada
saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain (Suranta, 2002).
Gaya kepemimpinan dianggap cocok apabila tujuan perusahaan telah dikomunikasikan
dan bawahan telah menerimanya. Seorang pemimpin harus menerapkan gaya
kepemimpinan untuk mengelola bawahannya, karena seorang pemimpin akan sangat
mempengaruhi keberhasilan organisasi dalam mencapai tujuannya (Waridin dan
Bambang Guritno, 2005).
Selanjutnya
faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja adalah motivasi kerja karyawan.
Setiap kegiatan yang dilakukan oleh seseorang didorong oleh suatu kekuasaan
dalam diri orang tersebut, kekuatan pendorong inilah yang disebut motivasi.
Motivasi kerja karyawan dalam suatu organisasi dapat dianggap sederhana dan
dapat pula menjadi masalah yang kompleks, karena pada dasarnya manusia mudah
untuk dimotivasi dengan memberikan apa yang menjadi keinginannya. Masalah
motivasi kerja dapat menjadi sulit dalam menentukan imbalan dimana apa yang
dianggap penting bagi seseorang karena sesuatu yang penting bagi seseorang
belum tentu penting bagi orang lain. Bila seseorang termotivasi, ia akan
berusaha berbuat sekuat tenaga untuk mewujudkan apa yang diinginkannya. Namun
belum tentu upaya yang keras itu akan menghasilkan produktivitas yang
diharapkan, apabila tidak disalurkan dalam arah yang dikehendaki organisasi.
Unsur kebutuhan berarti suatu keadaan internal yang menyebabkan hasil-hasil
tertentu tampak menarik. Suatu kebutuhan yang tidak terpuaskan akan menciptakan
tegangan yang merangsang dorongan-dorongan di dalam diri individu. Dorongan ini
menimbulkan suatu perilaku pencarian untuk menemukan tujuan-tujuan tertentu
yang apabila tercapai akan memenuhi kebutuhan itu dan mendorong ke pengurangan
tegangan.
Menurut
Luthans (2006) motivasi adalah proses sebagai langkah awal seseorang melakukan
tindakan akibat kekurangan secara fisik dan psikis atau dengan kata lain adalah
suatu dorongan yang ditunjukan untuk memenuhi tujuan tertentu. Apabila nilai
ini tidak terjadi, maka akan terwakili individu-individu yang mengeluarkan
tingkat biaya tinggi, yang sebenarnya berlawanan dengan kepentingan organisasi.
Rendahnya kinerja karyawan dan motivasi karyawan yang dihadapi sebenarnya
merupakan permasalahan klasik namun selalu update
untuk didiskusikan. Motivasi dapat mempengaruhi seseorang atau memberikan
dorongan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu. Faktor-faktor yang dapat
meningkatkan motivasi kerja karyawan dapat bersifat individu seperti kebutuhan,
sikap dan kemampuan, sedangkan yang bersifat organisasi meliputi pembayaran
gaji, pengawasan, pujian, dan pekerjaan itu sendiri (Farlens, 2011). Menurut
Hasibuan (2011) bahwa motivasi dapat meningkatkan produktivitas, kedisiplinan,
dan dapat mempertinggi rasa tanggung jawab karyawan terhadap tugas-tugasnya.
Penelitian
yang dilakukan oleh Listianto dan Setiaji (2007) menyatakan bahwa motivasi
kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja karyawan. Selain itu
juga penelitian yang dilakukan oleh Prasetyo dan Wahyuddin (2003) mendukung
penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa motivasi berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kinerja karyawan, dan dalam penelitian ini juga menyatakan
motivasi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi kinerja karyawan.
Selain
kepemimpinan dan motivasi, disiplin kerja juga merupakan salah satu faktor yang
berpengaruh terhadap kinerja. Menurut Sutrisno (2010) disiplin kerja pada
karyawan sangat dibutuhkan, karena apa yang menjadi tujuan perusahaan akan
sukar dicapai bila tidak ada disiplin kerja. Menurut Soegeng Pridjominto,
(1993) mengemukakan disiplin adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk
melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan,
kepatuhan, keteraturan, dan ketertiban. Karena sudah menyatu dengan dirinya,
maka sikap atau perbuatan yang dilakukan bukan lagi atau sama sekali tidak
dirasakan sebagai beban, bahkan sebaliknya akan membebani dirinya bilamana ia
tidak berbuat sebagaimana lazimnya. Nilai-nilai kepatuhan telah menjadi bagian
dari perilaku dalam kehidupanya. Untuk itu disiplin harus ditumbuh kembangkan
agar tumbuh pula ketertiban dan efisiensi. Menurut Budi Setiyawan dan Waridin
(2006), dan Aritonang (2005) disiplin kerja karyawan bagian
dari faktor kinerja. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa disiplin kerja
memiliki pengaruh positif terhadap kinerja kerja karyawan.
DHL adalah
pemimpin pasar global di bidang express
international, transpor darat dan transport udara. Dalam bisnis sehari-hari, DHL Global Forwarding menangani berbagai
kebutuhan logistik pelanggan, dari operasi logistik standar dan solusi
transportasi multi-mode hingga proyek-proyek industri khusus. DHL juga
merupakan nomor satu di dunia untuk freight samudera dan kontrak logistik. DHL
menawarkan berbagai solusi-solusi sesuai kebutuhan, mulai dari solusi di bidang
pengiriman ekspres dokumen sampai ke manajemen rantai pasokan. DHL dibentuk di
tahun 1969, sebagai pionir di industri kiriman kilat udara dengan rute
pertamanya dari San Francisco ke Honolulu. Kesuksesan perusahaan ini bermula
dari ide inovatifnya untuk mengirimkan segala dokumentasi sebelum Kargo tiba,
sehingga mempercepat proses import barangbarang.
Jaringan DHL berkembang dengan sangat pesat. DHL mempunyai 4 divisi khusus
yaitu DHL Ekspress, DHL Global Forwarding, DHL Global Mail, dan DHL Supply
Chain. Penelitian ini memfokuskan pada DHL Global
Forwarding
Semarang, salah satu divisi perusahaan DHL yang bertempat di Semarang.
Berdasarkan
hasil survei pendahuluan di PT DHL Global Forwarding Semarang didapatkan
beberapa pelanggan mengeluhkan adanya keterlambatan pembuatan dokumen ekspor
impor, hal ini menyebabkan ketidakpuasan pelanggan atas pelayanan meningkat.
Beban pekerjaan yang tidak seimbang karena didapati pekerjaan yang menumpuk di
salah seorang karyawan seperti bagian gudang, sehingga tidak dapat
terselesaikan dengan baik. Kualitas pekerjaan juga menurun bahkan kesalahan
yang terjadi cenderung dilemparkan kepada karyawan lain. Permasalahan ini
merupakan indikasi bahwa terjadi penurunan kinerja, oleh karena itu PT DHL
Global Forwarding harus melakukan audit secara menyeluruh untuk meningkatkan
kinerja karyawan dan mempertahankan keberlangsungan perusahaan.
Berikut
ini data jumlah keluhan pelanggan dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2012.
Tabel 1.1.
Jumlah Keluhan Pelanggan Periode Tahun 2010 s/d Tahun 2012
PT DHL Global Forwarding Semarang Branch
|
Bulan
|
2010
|
2011
|
2012
|
|
Januari
|
10
|
12
|
13
|
|
Pebruari
|
9
|
10
|
12
|
|
Maret
|
11
|
7
|
10
|
|
April
|
8
|
9
|
9
|
|
Mei
|
9
|
6
|
8
|
|
Juni
|
7
|
9
|
9
|
|
Juli
|
9
|
11
|
10
|
|
Agustus
|
8
|
8
|
10
|
|
September
|
10
|
10
|
9
|
|
Oktober
|
9
|
7
|
11
|
|
Nopember
|
7
|
10
|
10
|
|
Desember
|
9
|
9
|
12
|
|
Jumlah
|
106
|
108
|
123
|
Sumber: PT
DHL Global Forwarding, 2013
Berdasarkan
tabel diatas, memperlihatkan bahwa jumlah keluhan yang diterima PT DHL Global
Forwarding Semarang Branch meningkat terus menerus dari tahun 2010 sampai 2012.
Pada tahun 2010, terjadi 106 keluhan yang diterima oleh PT DHL Global
Forwarding Semarang. Pada tahun 2011, jumlah keluhan yang diterima meningkat
sebesar 108 keluhan. Peningkatan yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2012
dimana keluhan yang diterima sepanjang tahun tersebut adalah sebesar 123
keluhan. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa kinerja karyawan PT DHL Global
Forwarding Semarang terus menurun yang berakibat pada meningkatnya jumlah
keluhan selama 3 tahun terakhir.
Hasil
wawancara dengan beberapa karyawan didapati adanya indikasi lemahnya gaya
kepemimpinan di PT DHL Global Forwarding Semarang. Menurutnya, manajer kurang
bekerjasama dengan karyawan, manajer memperlakukan karyawan secara tidak adil
antara yang satu dengan yang lain, manajer kurang menjaga hubungan impersonal
(tidak memisahkan urusan kerja dengan urusan pribadi) dengan karyawan, manajer
jarang membimbing dan mengarahkan karyawan yang lambat dalam kerja atau manajer
kurang bertanggung jawab. Manajer pun kurang tegas memberikan peringatan atau
hukuman kepada karyawan yang bermasalah.
Selanjutnya,
yang perlu diperhatikan dalam PT DHL Global Forwarding Semarang ini adalah
adanya indikasi penurunan motivasi kerja karyawan yang berdampak pada penurunan
kinerja karyawan di PT DHL Global Forwarding
Semarang.
Hal ini sesuai dengan hasil wawancara dengan Rangga Kharisma, Ocean Freight
Officer didapatkan bahwa karyawan dalam mengerjakan pekerjaan merasa kurang
nyaman dengan lingkungan kerja sehingga pekerjaan karyawan tidak dapat
terselesaikan sesuai dengan yang direncanakan, pimpinan kurang memperhatikan
karyawan, dan karyawan merasakan beban kerja terlalu berat.
Selain
itu, minimnya pengawasan dari manajer dan supervisor menyebabkan banyaknya
kesalahan dalam pembuatan dokumen ekspor dan impor membuat banyaknya keluhan
yang terjadi setelah dokumen sampai kepada pelanggan. Pelatihan tentang sistem
baru di perusahaan pun cenderung diperkenalkan hanya dalam waktu singkat,
sehingga terkadang karyawan banyak melakukan kesalahan dalam pembuatan dokumen
ekspor maupun impor yang dapat berakibat pada lambatnya penyusunan dokumen yang
berujung pada keluhan pelanggan. Selain itu, masalah yang dapat mempengaruhi
motivasi kerja karyawan PT DHL Global Forwarding ini adalah permasalahan
kompensasi yang tidak jelas perhitungannya dan juga tidak pernah ada
sosialisasi peraturan yang mengatur tentang kompensasi.
Kemudian faktor lain yang dapat mempengaruhi kinerja
karyawan di PT DHL Global Forwarding adalah kedisiplinan karyawan. Disiplin
berusaha mencegah permulaan kerja yang lambat atau terlalu awalnya mengakhiri
kerja yang disebabkan karena keterlambatan atau kemalasan. Dari hasil wawancara
dengan beberapa karyawan, terindikasi adanya penerapan disiplin kerja yang
kurang baik dalam PT DHL Global Forwarding Semarang. Disiplin pegawai di PT DHL
Global Forwarding perlu dipupuk dan dipelihara dengan baik, karena apabila
pegawai tidak disiplin akan mengakibatkan lambatnya pelaksanaan tugas, selain
itu juga akan menimbulkan akibat-akibat yang buruk terhadap perusahaan.
Berdasarkan hasil survei awal didapatkan disiplin kerja karyawan menurun
berlangsung selama tahun 2010 sampai dengan tahun 2012. Disiplin kerja karyawan
menurun ditunjukkan dari adanya peningkatan jumlah absensi karyawan yang meningkat
seperti yang ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 1.2
Data
Jumlah Karyawan Mangkir Periode Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2012
|
|
|
Tahun
|
|
|
Bulan
|
2010
(%)
|
2011
(%)
|
2012
(%)
|
|
Januari
|
2
|
3
|
2.8
|
|
Pebruari
|
1
|
1.2
|
1.5
|
|
Maret
|
1.7
|
1.5
|
1.6
|
|
April
|
2
|
2.1
|
2.4
|
|
Mei
|
1.2
|
1.7
|
2.2
|
|
Juni
|
1.5
|
2
|
2.6
|
|
Juli
|
1.75
|
1.5
|
1.8
|
|
Agustus
|
2
|
2.2
|
2.1
|
|
September
|
1.8
|
1.75
|
1.7
|
|
Oktober
|
2.7
|
3
|
2.9
|
|
Nopember
|
2.1
|
2
|
2.6
|
|
Desember
|
2.3
|
2.5
|
3
|
|
Rata-rata
|
1.74
|
2.04
|
2.05
|
Sumber: PT
DHL Global Forwarding, 2012
Berdasarkan
tabel 1.2 diketahui bahwa rata-rata karyawan yang mangkir pada tahun 2010
sebesar 1,74 persen, kemudian meningkat pada tahun 2011 menjadi 2,04 persen.
Dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 peningkatan absensi karyawan mencapai
0,3 persen. Kemudian pada tahun 2012 jumlah karyawan yang absen menjadi 2,05
persen. Adanya peningkatan jumlah karyawan yang absen pada tahun 2010 sampai
dengan tahun 2012 menunjukkan
kedisiplinan
karyawan menurun terus selama tiga tahun terakhir.
Selain
itu, berdasarkan hasil wawancara kepada karyawan diketahui bahwa selama ini
tidak ada peraturan kedisiplinan yang jelas. Menurut Anggar Haryono, Sales
Executive selama bekerja di PT DHL Global Forwarding, belum ada peraturan
mengenai jam masuk kerja karena masuk kerja jam berapapun tidak pernah dikenai sanksi.
Selain itu, tidak ada tindak pendisiplinan yang jelas terhadap karyawan
terutama bagian operasional dokumen dan gudang yang sering keluar masuk kantor
tanpa izin disaat jam kerja berlangsung. Apabila hal ini berlangsung terus
menerus akan mengakibatkan menurunnya kualitas hasil kerja antara lain
pelayanan pembuatan dokumen ekspor maupun impor jadi terhambat. Beberapa
dokumen yang harus segera dibuat menjadi terlambat untuk ditangani.
Berdasarkan
uraian di atas dan melihat pentingnya gaya kepemimpinan yang sesuai dengan
harapan karyawan, motivasi kerja, disiplin kerja dalam menentukan keberhasilan
kinerja di PT DHL Global Forwarding maka peneliti ini
tertarik mengambil judul “PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN, MOTIVASI KERJA
DAN DISIPLIN KERJA TERHADAP KINERJA
KARYAWAN
(Studi Empiris Pada PT DHL Global Forwarding Semarang Branch)”.
1.2 Rumusan Masalah
PT DHL
Global Forwarding merupakan perusahaan penyedia jasa pembuatan dokumen ekspor
impor. Dalam rangka terwujudnya pelayanan yang maksimal terhadap konsumen, PT
DHL Global Forwarding Semarang perlu
meningkatkan
kinerja perusahaan. Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, terlihat
adanya penurunan kinerja pada karyawan PT DHL Global Forwarding Semarang
Branch. Hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya jumlah keluhan selama 3 tahun
terakhir. Penurunan kinerja di PT DHL Global Forwarding
Indonesia
diduga disebabkan oleh lemahnya gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam
perusahaan, motivasi karyawan yang terus menurun, dan juga tingkat kedisiplinan
kerja karyawan yang menurun.
Sehubungan
dengan hal tersebut maka pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian
ini adalah:
1.
Bagaimana pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan
PT DHL Global Forwarding?
2.
Bagaimana pengaruh motivasi kerja terhadap kinerja karyawan
PT DHL Global Forwarding?
3.
Bagaimana pengaruh disiplin kerja terhadap kinerja karyawan
PT DHL Global Forwarding?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Adapun
tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1.
Untuk menguji secara empiris pengaruh gaya kepemimpinan
terhadap kinerja karyawan PT DHL Global Forwarding.
2.
Untuk menguji secara empiris pengaruh motivasi kerja
terhadap kinerja karyawan PT DHL Global Forwarding.
3.
Untuk menguji secara empiris pengaruh disiplin kerja
terhadap kinerja karyawan PT DHL Global Forwarding.
1.3.2 Manfaat Penelitian
1.
Bagi
Penulis
Untuk
memahami lebih dalam faktor-faktor apa saja yang dapat meningkatkan motivasi
kerja, gaya kepemimpinan dan disiplin kerja sehingga berdampak pada peningkatan
kinerja karyawan PT DHL Global Forwarding.
2. Bagi Institusi
Diharapkan
dapat menjadi salah satu sumber informasi untuk meninjau kembali terhadap
kebijakan yang telah dilakukan dalam kaitannya mengenai disiplin kerja, gaya
kepemimpinan, motivasi kerja dan kinerja karyawan di PT
DHL Global
Forwarding.
3. Bagi Akademik
Dalam penelitian ini diharapkan jurusan manajemen sumber
daya manusia dapat memahami apa saja yang menyebabkan peningkatan kinerja
seorang karyawan sehingga diharapkan apabila mahasiswa terjun dalam dunia kerja
dapat kompeten dan kompetitif untuk bersaing di dunia kerja pada masa kini dan
mendatang.
Komentar
Posting Komentar